IFC Meluncurkan Program Untuk Mendukung Pengembangan Hutan Tanaman pada Lahan Kritis di Indonesia
Jakarta:
Novita Wund
Phone: (+62) 8118400438
E-mail: NWund@ifc.org
Washington, D.C.:
Hannfried von Hindenburg
Phone : 1 (202) 4585613
E-mail: hvonhindenburg@ifc.org
Jakarta, Indonesia, 18 November,
2009—IFC, anggota Kelompok Bank Dunia, meluncurkan Program Sustainable
Forestry di Indonesia untuk mendukung pengembangan hutan tanaman pada lahan
kritis guna mengurangi dampak perubahan iklim dan menciptakan lapangan
pekerjaan di pedesaan.
Program Sustainable Forestry IFC diluncurkan
hari ini dalam sebuah lokakarya yang bertujuan untuk mengatasi hambatan
dan meningkatkan investasi guna mengembangkan hutan tanaman yang berkelanjutan.
Lokakarya ini dihadiri oleh pejabat tinggi dari Departemen Kehutanan, perwakilan
senior dari perusahaan kehutanan, serta organisasi non-pemerintah di sektor
kehutanan.
Indonesia adalah negara penghasil emisi
gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia. Sekitar 85 persennya diakibatkan
oleh perubahan dalam penggunaan lahan dan penebangan hutan. “Program ini
merupakan bentuk komitmen IFC untuk mengurangi dampak emisi gas rumah kaca,”
ungkap Adam Sack, Country Manager IFC untuk Indonesia. “Menciptakan hutan
tanaman pada lahan kritis dapat menurunkan emisi gas rumah kaca, mengembalikan
produktifitas lahan tersebut, dan menciptakan lapangan pekerjaan yang sangat
dibutuhkan di pedesaan.”
Area hutan alam di Indonesia telah menurun
drastis, sehingga menimbulkan tantangan perubahan iklim dan hambatan dalam
mempromosikan tata kelola hutan lestari yang berkelanjutan. Saat ini, terdapat
96 juta hektar lahan kritis di Indonesia, delapan juta hektar diantaranya
merupakan padang alang-alang. Program Sustainable Forestry di Indonesia
bertujuan untuk mempromosikan praktek pengelolaan hutan yang berkelanjutan
dengan cara membantu perusahaan untuk mengembangkan hutan tanaman pada
lahan kritis secara berkelanjutan dan menguntungkan, serta mengurangi biaya
yang umumnya dialami dalam pembangunan hutan tanaman tersebut.
Dalam lima tahun kedepan, program ini
menargetkan untuk meningkatkan luas hutan tanaman pada lahan kritis sebesar
250.000 hektar, menciptakan lapangan pekerjaan bagi 90.000 orang di pedesaan,
dan menurunkan emisi karbon minimum sebesar 90 juta ton.
Untuk mencapai target tersebut, program
ini akan diterapkan melalui tiga langkah strategis, yaitu mengurangi emisi
gas rumah kaca melalui pembangunan hutan tanaman pada lahan kritis secara
komersial, meningkatkan kualitas iklim usaha guna meningkatkan investasi
untuk pengembangan hutan tanaman, dan meningkatkan area hutan tanaman yang
tersertifikasi.
IFC Advisory Services di Indonesia didukung
oleh pemerintah Australia, Belanda, Selandia Baru, dan Swiss.
IFC adalah satu-satunya institusi
keuangan internasional yang khusus berfokus pada pengembangan sektor swasta,
yang merupakan penggerak pembangunan yang berkelanjutan di negara berkembang.
IFC saat ini sedang berusaha untuk meningkatkan permodalan guna memperkuat
kemampuannya dalam menciptakan peluang bagi masyarakat miskin di negara-negara
berkembang, diantaranya dengan mendukung praktek pengelolaan hutan secara
berkelanjutan di Indonesia.
About IFC
IFC, anggota Kelompok Bank Dunia, memberikan
peluang bagi masyarakat untuk keluar dari kemiskinan serta memperbaiki
taraf hidup mereka. IFC berusaha untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang
berkelanjutan di negara-negara berkembang dengan cara memberikan pembiayaan
ke sektor swasta, memobilisasi modal swasta, dan memberikan layanan pendampingan
teknis serta mitigasi resiko kepada perusahaan dan pemerintah. Pada tahun
fiskal 2009, total investasi IFC yang sebesar $14.5 milyar telah membantu
menyalurkan dana pembiayaan ke negara-negara berkembang disaat krisis finansial
terjadi. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.ifc.org
|